Saturday, January 24, 2015

Ujian Kehidupan


Dalam Quran Surah  Al Ankabuut ayat  2, Allah SWT memberikan peringatan, yaitu:

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?

Hal tersebut menandakan jika seseorang telah berani mengatakan ‘kami beriman kepada Allah’, maka hendaknya berisiap-siaplah ia menghadapi ujian. Setelah ujian datang maka akan tampak bagaimana kadar keimanan seseorang. Lantas Mengapa orang yang beriman justru yang diberikan ujian oleh Allah? Logikanya yang mengikuti ujian di sekolah tentu adalah anak-anak yang bersekolah. Semakin tinggi kelasnya, maka akan semakin sulit hal yang diujikan. Begitupun dengan orang-orang yang beriman, akan diuji keimananannya.
 Allah SWT menjelaskan jenis-jenis ujian yang akan diberikan kepada orang-orang beriman dalam Q.S. Al Baqarah: 155

dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.

Dari ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat 5 jenis ujian, yaitu:

1.      Diuji dengan Rasa Takut
Ada orang kaya yang takut jatuh miskin. Akibat rasa takutnya, ia menumpuk harta sebanyaknya dengan menghalalkan segala cara. Tidak peduli halal atau haram, melalui jalan yang haq atau bathil, karena yang terpenting adalah ia dapat menumpuk harta, tidak hanya cukup untu diri sendiri jika perlu keturunannya, yaitu anak-anaknya bahkan cucu-cucunya telah dipersiapkan untuk menjadi kaya. Akibat dari rasa takut ini, ia terjebak pada sifat bakhil sifat tertutup, berpangku tangan melihat kesulitan dan penderitaan orang lain maka sesungguhnya ia tidak merasa bahwa harta merupakan titipan Allah. Tidak sedikitpun hatinya tergerak untuk memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkannya.
Akibat sifat bakhil yang dimilikinya, termasuklah ia dalam orang-orang yang diingatkan Allah yaitu orang-orang yang menumpuk-numpuk harta kemudian menghitung-hitungnya, ia menyangka bahwa hartanya dapat mengekalkan kehidupannya di dunia ini, ia menyangka bahwa hartanya dapat mengekalkan kebahagiaannya di dalam kehidupan ini. Maks kerjanya hanya menumpuk dan menumpuk dan ia sangat jatuh untuk jatuh miskin.
Lalu yang memiliki jabatan takut kehilangan kedudukan dan pengaruhnya, maka ia akan melakukan segala cara dan jalan untuk menjaga keamanan dan ketenangan dari jabatan yang sedang didudukinya, hilang kesadaran bahwa jabatan adalah amanah, hilang pengertian bahwa kedudukan adalah alat untuk berbuat baik dan mengabadi pada sesamanya. Yang ada pikirannya hanyalah bagaimana menjaga kedudukan dan pengaruhnya agar tetap ada dalam dirinya. Segala cara pun  dilakukan dan kadang-kadang ia kehilangan kontrolnya.
Kemudian pada akhirnya manusia pun dilanda oleh perasaaan takut mati. Sungguh sangat tidak beralasan sama sekali. Karena mati adalah merupakan kewajiban dari semua yang bernama hidup. Bahkan mati dapat menjadi sebuah nasihat dalam kehidupan.

Rasulullah SAW bersabda, “Aku tinggalkan kepadamu dua nasihat, pertama nasihat yang pandai berbicara dan yang kedua nasihat yang diam saja”. Sahabat bertanya. “nasihat yang pandai bicara itu apa ya Rasul?” Beliau menjawab, “Al-qu’ran.” Sahabat kemudian bertanya kembali, “Nasihat yang diam saja apa ya Rasul?” Beliau menjawab “Maut”.
Oleh karena itu  Ketakutan-ketakutan tersebut merupakan ujian bagi nilai-nilai keimanan orang-orang beriman. Untuk menghadapinya maka sepatutnya kita menyadari bahwa harta merupakan pemberian dari Allah maka akan kembali pula pada-Nya, kedudukan dan pengaruh juga merupakann amanah dari Allah SWT yang harus dianggap sebagi kesempatan dalam berbuat kbajikan sebanyak-banyaknya dan seluas-luasnya. Jika kita telah menyadari itu semua maka kapanpun maut menjemput, maka kita akan siap karena sejatinya kita telah menggunakan segala amanah yang telah dititipkan kepada kita telah digunakan dalam sebaik-baiknya sebagai bekal setelah maut menjemput.

2.      Diuji dengan Rasa Lapar

Kelaparan belum tentu identik dengan kemiskinan. Dalam Surat An-Nahl ayat 112, Allah SWT berfirman: 


dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat




Memaknai firman Allah ini, mari kita melakukan introspkesi diri, sebagai seorang khalifah di bumi yang ditugaskan untuk membudidayakan dan mengelola alam untuk memanfaatkannya dalam kehidupan kita. Terlebih lagi sebagi rakyat Indonesia, yang memiliki negara yang indah, wilayah yang subur sumber daya alam,  dengan slogannya “Gemah Ripah Loh Jinawi Toto Tentrem Kerto Raharjo’ apabila hal ini menjadikan kita kufur terhadap nikmat yang Allah berikan maka tidak akan mendatangkan malapetaka berupa ketidaktenangan ataupun kesejahteraan, bahkan berpotensi menajdikan potensi kekacauan, ketidaktenangan dan kelaparan di negeri yang makmur. Hal tersebut karena pengelolaan yang mementingkan kepuasan saat ini tanpa memperhatikan budidaya seumber daya alam.

Kelaparan juga dapat dialami dalam artian kehidupan pribadi manusia. Hidup berjalan bagaikan roda, yaitu ada saat seseorang berjaya dan ada saatnya mengalami kemunduruan. Oleh karena itu semestinya kita sadar untuk menjaga ibadah kepada Allah tidak harus terpengaruh dengan keadaan pasang surut kehidupan. Kelaparan boleh jadi menguji nilai keimanan seseorang. Apabila seseorang yang dalam keadaan lapar saja imannya kuat, maka pada kondisi yang tidak lapar imannnya akan lebih mantap.

Sebagai orang yang beriman mari kita menyadari bahwa Allah SWT senantiasa memberikan yang terbaik bagi hambanya, apabila kelaparan kita terima dengan lapang dada tidak akan menimbulkan perbuatan negatif sehingga tetap dalam kontrol terhadap kaidah agama meskipun betapa inginnya kita ingin menjaga kelangsungan hidup dari kelaparan.

3.      Diuji dengan Kemiskinan

Kemiskinan merupakan ujian dari Allah SWT untuk menguji sejauh mana kekutan iman yang kita miliki. Tetapi sesungguhnya pada hekakatnya kekayaan juga merupakan ujian dalam kehidupan. Namun umumnya manusia akan lebih merasa diuji pada saat miskin daripada saat menjadi kaya.
Kemiskinan pun banyak bentuknya. Ada bentuk kemiskinan di bidang ilmu pengetahuan. Kemiskinan dan kebodohan seperti saudara kemiskinan dapat menimbulkan kebodohan, kebodohan pun dapat meyebabkan kemiskinan. Tapi yang paling celaka jika keduanya telah berjalan beriringan.
Yang lebih parah dari miskin ilmu adalah miskin akhlak. Karena miskin akhlak menyebabkan seseorang tidak memiliki budi pekerti. Namun ada pun yang dimaksud dalam Surat. Adalah miskin harta. Kemiskinan dapat mendekatkan seseorang pada kekufuran sehingga membuat seseorang nekat. Segala hal dikorbankan untuk mengatasi kemiskinan, tak hanya materi, bahkan akidah dan pandangan hidupnya tidak segan untuk dikorbankan. Padahal telah berulangkali diingatkan bahwa iman merupakan harta yang paling berharga dalam kehidupan. Rasulullah SAW setiap persoalan yang dialami umat Islam baik baginya, asalkan baik dalam menerima, sebagaimana sabdanya:
“Urusan orang beriman itu menakjubkan. Sesungguhnya urusannya semua baik. Dan hal itu tidak dialami seorangpun kecuali orang beriman. Bila ia mendapat karunia, ia bersyukur. Maka bersyukur itu baik baginya. Bila ia mendapat mudharat, ia bersabar. Maka bersabar itu baik baginya.” (Muslim 14/280)
Oleh karena itu janganlah kita tukar keimanan dengan materi duniawi. Kemiskinan apabila didasari keimanan akan membawa pada kebahagiaan.

4.      Diuji dengan Kekurangan Jiwa (Kematian)
Bagaimanapun besarnya ketakutan kita terhadap kematian seseorang yang hidup akan tetap menghadapi kematiannya. Maka sebagaimana prinsip yang dinyatakan para ulama, Hidup Mulia atau Mati Syahid. Alangkah nikmat hidup yang berisi kemuliaan dan alangkah indahnya mati dalam nilai syahid.
Kita perlu meneladani kisah Nabi Ibrahim dan Ismail, sebagimana Nabi Ibrahim as diminta membuktikan kecintaannya kepada Allah daripada hal lainnya, bahkan anaknya, Nabi Ismail. Sejarah pun membuktikan bahwa Nabi Ibrahim melaksanakan ujian untuk menyembelih anaknya. Ismail pun sebagai anak yang sholeh menerima apa yang telah menjadi perintah Allah meski harus kehilangan jiwanya (mati).
Hidup Mulia atau Mati Syahid semestinya dapat kita lakukan keduanga. Sehingga kematian dikenang sebagai orang yang dikenang kebaikan dan kebajikan sebagai orang yang dekat dan banyak berbuat untuk kepentingan agamanya.
Pembicaraan mengenai kematian ini pun dapat kita ambil hikmah tak hanya kematian pada jiwa yang hidup tetapi juga ujian terhadap kematian lain seperti takut mati usahanya, takut mati kariernya apabila ketakutan tersebut menyebabkan perilaku penyimpangan menjadikan seseorang berperilaku tidak sesuai dengan kaidah agama.

5.      Kekurangan Buah-buahan (Paceklik)
Hal ini juga berkaitan dengan Q.S An Nahl ayat 112, merasa telah berkecukupan dengan nikmat yang ada sehingga menyebabkan seseorang kufur. Sehingga berhasil atau tidaknya usaha yang dilakukan harus tetap menyandarkan keimanan kita kepada Allah.

Selain menjelaskan tentang ujian keimanan terhadap keimanan, Allah SWT Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang juga menjelaskan jalan keluar dalam menghadapi ujian. Firman Allah tersebut ada dalam ayat yang sama dan ayat selanjutnya, Q. S Al Baqarah ayat 156

 ... dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.
(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun"**.
[**] Artinya: Sesungguhnya Kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah Kami kembali. kalimat ini dinamakan kalimat istirjaa (pernyataan kembali kepada Allah). Disunatkan menyebutnya waktu ditimpa marabahaya baik besar maupun kecil.

Tidak hanya sebuah ucapan, namun juga perlu dihayati filsafat yang terkandung didalamnya.. Apabila segalanya telah diiringi dengan kesabaran maka kita kembalikan pada Allah SWT maka seseorang akan terhindar dalam ketakutan terhadap kehilangan harta, ketakutan akan kedudukan, bahkan kematian. Kesabaran bukan berarti rela terhadap apapun yang menimpa baik itu benar ataupun salah. Apabila kita tidak bertindak terhadap kesalahan yang menyebabkan tertimpanya ujian akan menyebabkan kita selalu tertindas.  Sebab itu, Allah menggandengnkan kesabaran dan kebenaran, sebagaimana dalam Surat Al Ashr, Wa tawaa Shawbil haqqi, wa tawaa shawbis shabr. Apabila kita benar harus sabar, apabila kita sabar harus karena benar. Jika Kebenaran merupakan suatu prinsip maka kesabaran merupakan suatu strategi. Prinsip yang tanpa strategi akan mudah dipatahkan dalam mencapai tujuan yang diharapkan.


Perlu kita teladani sifat sabar yang dimiliki rasulullah SAW, sepanjang pribadi beliau yang dihina atau dicaci-maki beliau selalu mengendalikan diri tidak membalasnya akan tetapi jika permasalahan yang terjadi adalah adalah permasalah agama, penghinaan terhadap agama maka beliau tidak segan-segan maju berperang, bukan untuk memaksakan agama kepada sesorang tapi untuk menjaga kehormatan Islam Namun yang saat ini terjadi justru sebaliknya, jika pribadi dihina kita tsangat tidak terima namun jika agama kita yang dicaci maki seolah melimpahkan pembelaan terhadap agama kita hanyalah ustadz dan ulama. Apakah agama hanya urusan ustad dan ulama? Padahal setiap dari kita memiliki agama, lantas mengapa kita enggan membela sesuatau yang kelak akan menjadi pembela kita di akhirat? Maka sabar harus diletakkan pada tempatnya. Oleh karenanya orang yang sabar adalah orang yang sadar akan hakikat yag terdapat dalam kalimat "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun". Semoga dengan sikap ini Allah SWT memberrikan kelapangan pada kita serta meningkatkan keimanan yang ada pada diri kita. Aamiin




referensi : Ceramah "Cobaan Hidup" oleh KH. Zainuddin MZ



No comments:

Post a Comment

Designed By Blogger Templates