Dalam Quran Surah Al Ankabuut ayat 2, Allah SWT memberikan peringatan, yaitu:
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?
Hal
tersebut menandakan jika seseorang telah berani mengatakan ‘kami beriman kepada Allah’, maka hendaknya
berisiap-siaplah ia menghadapi ujian. Setelah ujian datang maka akan tampak
bagaimana kadar keimanan seseorang. Lantas Mengapa orang yang beriman justru
yang diberikan ujian oleh Allah? Logikanya yang mengikuti ujian di sekolah
tentu adalah anak-anak yang bersekolah. Semakin tinggi kelasnya, maka akan
semakin sulit hal yang diujikan. Begitupun dengan orang-orang yang beriman,
akan diuji keimananannya.
Allah SWT menjelaskan jenis-jenis ujian yang
akan diberikan kepada orang-orang beriman dalam Q.S. Al Baqarah: 155
dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.
Dari ayat tersebut dapat disimpulkan
bahwa terdapat 5 jenis ujian, yaitu:
1.
Diuji dengan Rasa Takut
Ada orang kaya yang takut jatuh miskin. Akibat
rasa takutnya, ia menumpuk harta sebanyaknya dengan menghalalkan segala cara.
Tidak peduli halal atau haram, melalui jalan yang haq atau bathil, karena
yang terpenting adalah ia dapat menumpuk harta, tidak hanya cukup untu diri
sendiri jika perlu keturunannya, yaitu anak-anaknya bahkan cucu-cucunya telah
dipersiapkan untuk menjadi kaya. Akibat dari rasa takut ini, ia terjebak pada
sifat bakhil sifat tertutup,
berpangku tangan melihat kesulitan dan penderitaan orang lain maka sesungguhnya
ia tidak merasa bahwa harta merupakan titipan Allah. Tidak sedikitpun hatinya
tergerak untuk memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkannya.
Akibat sifat bakhil yang dimilikinya, termasuklah
ia dalam orang-orang yang diingatkan Allah yaitu orang-orang yang
menumpuk-numpuk harta kemudian menghitung-hitungnya, ia menyangka bahwa
hartanya dapat mengekalkan kehidupannya di dunia ini, ia menyangka bahwa
hartanya dapat mengekalkan kebahagiaannya di dalam kehidupan ini. Maks kerjanya
hanya menumpuk dan menumpuk dan ia sangat jatuh untuk jatuh miskin.
Lalu yang memiliki jabatan takut kehilangan
kedudukan dan pengaruhnya, maka ia akan melakukan segala cara dan jalan untuk
menjaga keamanan dan ketenangan dari jabatan yang sedang didudukinya, hilang
kesadaran bahwa jabatan adalah amanah, hilang pengertian bahwa kedudukan adalah
alat untuk berbuat baik dan mengabadi pada sesamanya. Yang ada pikirannya
hanyalah bagaimana menjaga kedudukan dan pengaruhnya agar tetap ada dalam
dirinya. Segala cara pun dilakukan dan
kadang-kadang ia kehilangan kontrolnya.
Kemudian pada akhirnya manusia pun dilanda
oleh perasaaan takut mati. Sungguh sangat tidak beralasan sama sekali. Karena
mati adalah merupakan kewajiban dari semua yang bernama hidup. Bahkan mati
dapat menjadi sebuah nasihat dalam kehidupan.
Rasulullah SAW bersabda, “Aku tinggalkan kepadamu dua nasihat, pertama nasihat yang pandai
berbicara dan yang kedua nasihat yang diam saja”. Sahabat bertanya. “nasihat yang pandai bicara itu apa ya Rasul?”
Beliau menjawab, “Al-qu’ran.” Sahabat
kemudian bertanya kembali, “Nasihat yang
diam saja apa ya Rasul?” Beliau menjawab “Maut”.
Oleh karena itu Ketakutan-ketakutan tersebut merupakan ujian
bagi nilai-nilai keimanan orang-orang beriman. Untuk menghadapinya maka
sepatutnya kita menyadari bahwa harta merupakan pemberian dari Allah maka akan
kembali pula pada-Nya, kedudukan dan pengaruh juga merupakann amanah dari Allah
SWT yang harus dianggap sebagi kesempatan dalam berbuat kbajikan
sebanyak-banyaknya dan seluas-luasnya. Jika kita telah menyadari itu semua maka
kapanpun maut menjemput, maka kita akan siap karena sejatinya kita telah
menggunakan segala amanah yang telah dititipkan kepada kita telah digunakan
dalam sebaik-baiknya sebagai bekal setelah maut menjemput.
2. Diuji dengan
Rasa Lapar
Kelaparan belum tentu identik dengan
kemiskinan. Dalam Surat An-Nahl ayat 112, Allah SWT berfirman:
dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat
Memaknai firman Allah ini, mari kita melakukan
introspkesi diri, sebagai seorang khalifah di bumi yang ditugaskan untuk
membudidayakan dan mengelola alam untuk memanfaatkannya dalam kehidupan kita. Terlebih
lagi sebagi rakyat Indonesia, yang memiliki negara yang indah, wilayah yang
subur sumber daya alam, dengan slogannya
“Gemah Ripah Loh Jinawi Toto Tentrem
Kerto Raharjo’ apabila hal ini menjadikan kita kufur terhadap nikmat yang
Allah berikan maka tidak akan mendatangkan malapetaka berupa ketidaktenangan
ataupun kesejahteraan, bahkan berpotensi menajdikan potensi kekacauan,
ketidaktenangan dan kelaparan di negeri yang makmur. Hal tersebut karena pengelolaan
yang mementingkan kepuasan saat ini tanpa memperhatikan budidaya seumber daya
alam.
Kelaparan juga dapat dialami dalam artian
kehidupan pribadi manusia. Hidup berjalan bagaikan roda, yaitu ada saat
seseorang berjaya dan ada saatnya mengalami kemunduruan. Oleh karena itu
semestinya kita sadar untuk menjaga ibadah kepada Allah tidak harus terpengaruh
dengan keadaan pasang surut kehidupan. Kelaparan boleh jadi menguji nilai
keimanan seseorang. Apabila seseorang yang dalam keadaan lapar saja imannya
kuat, maka pada kondisi yang tidak lapar imannnya akan lebih mantap.
Sebagai orang yang beriman mari kita menyadari
bahwa Allah SWT senantiasa memberikan yang terbaik bagi hambanya, apabila
kelaparan kita terima dengan lapang dada tidak akan menimbulkan perbuatan negatif
sehingga tetap dalam kontrol terhadap kaidah agama meskipun betapa inginnya
kita ingin menjaga kelangsungan hidup dari kelaparan.
3.
Diuji dengan Kemiskinan
Kemiskinan merupakan ujian dari Allah SWT
untuk menguji sejauh mana kekutan iman yang kita miliki. Tetapi sesungguhnya
pada hekakatnya kekayaan juga merupakan ujian dalam kehidupan. Namun umumnya
manusia akan lebih merasa diuji pada saat miskin daripada saat menjadi kaya.
Kemiskinan pun banyak bentuknya. Ada bentuk
kemiskinan di bidang ilmu pengetahuan. Kemiskinan dan kebodohan seperti saudara
kemiskinan dapat menimbulkan kebodohan, kebodohan pun dapat meyebabkan
kemiskinan. Tapi yang paling celaka jika keduanya telah berjalan beriringan.
Yang lebih parah dari miskin ilmu adalah
miskin akhlak. Karena miskin akhlak menyebabkan seseorang tidak memiliki budi
pekerti. Namun ada pun yang dimaksud dalam Surat. Adalah miskin harta.
Kemiskinan dapat mendekatkan seseorang pada kekufuran sehingga membuat
seseorang nekat. Segala hal dikorbankan untuk mengatasi kemiskinan, tak hanya
materi, bahkan akidah dan pandangan hidupnya tidak segan untuk dikorbankan.
Padahal telah berulangkali diingatkan bahwa iman merupakan harta yang paling
berharga dalam kehidupan. Rasulullah SAW setiap persoalan yang dialami umat
Islam baik baginya, asalkan baik dalam menerima, sebagaimana sabdanya:
“Urusan orang beriman itu menakjubkan.
Sesungguhnya urusannya semua baik. Dan hal itu tidak dialami seorangpun kecuali
orang beriman. Bila ia mendapat karunia, ia bersyukur. Maka bersyukur itu baik
baginya. Bila ia mendapat mudharat, ia bersabar. Maka bersabar itu baik
baginya.” (Muslim 14/280)
Oleh karena itu janganlah kita tukar keimanan
dengan materi duniawi. Kemiskinan apabila didasari keimanan akan membawa pada
kebahagiaan.
4. Diuji dengan
Kekurangan Jiwa (Kematian)
Bagaimanapun besarnya ketakutan kita terhadap
kematian seseorang yang hidup akan tetap menghadapi kematiannya. Maka sebagaimana
prinsip yang dinyatakan para ulama, Hidup
Mulia atau Mati Syahid. Alangkah nikmat hidup yang berisi kemuliaan dan
alangkah indahnya mati dalam nilai syahid.
Kita perlu meneladani kisah Nabi Ibrahim dan
Ismail, sebagimana Nabi Ibrahim as diminta membuktikan kecintaannya kepada
Allah daripada hal lainnya, bahkan anaknya, Nabi Ismail. Sejarah pun
membuktikan bahwa Nabi Ibrahim melaksanakan ujian untuk menyembelih anaknya.
Ismail pun sebagai anak yang sholeh menerima apa yang telah menjadi perintah
Allah meski harus kehilangan jiwanya (mati).
Hidup Mulia atau Mati Syahid semestinya dapat
kita lakukan keduanga. Sehingga kematian dikenang sebagai orang yang dikenang
kebaikan dan kebajikan sebagai orang yang dekat dan banyak berbuat untuk
kepentingan agamanya.
Pembicaraan mengenai kematian ini pun dapat
kita ambil hikmah tak hanya kematian pada jiwa yang hidup tetapi juga ujian
terhadap kematian lain seperti takut mati usahanya, takut mati kariernya
apabila ketakutan tersebut menyebabkan perilaku penyimpangan menjadikan
seseorang berperilaku tidak sesuai dengan kaidah agama.
5. Kekurangan
Buah-buahan (Paceklik)
Hal ini juga berkaitan dengan Q.S An Nahl ayat
112, merasa telah berkecukupan dengan nikmat yang ada sehingga menyebabkan
seseorang kufur. Sehingga berhasil atau tidaknya usaha yang dilakukan harus
tetap menyandarkan keimanan kita kepada Allah.
Selain
menjelaskan tentang ujian keimanan terhadap keimanan, Allah SWT Yang Maha
Pengasih lagi Maha Penyayang juga menjelaskan jalan keluar dalam menghadapi
ujian. Firman Allah tersebut ada dalam ayat yang sama dan ayat selanjutnya, Q.
S Al Baqarah ayat 156
... dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.
(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun"**.
[**] Artinya: Sesungguhnya Kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah Kami kembali. kalimat ini dinamakan kalimat istirjaa (pernyataan kembali kepada Allah). Disunatkan menyebutnya waktu ditimpa marabahaya baik besar maupun kecil.
Tidak
hanya sebuah ucapan, namun juga perlu dihayati filsafat yang terkandung
didalamnya.. Apabila segalanya telah diiringi dengan kesabaran maka kita
kembalikan pada Allah SWT maka seseorang akan terhindar dalam ketakutan
terhadap kehilangan harta, ketakutan akan kedudukan, bahkan kematian. Kesabaran
bukan berarti rela terhadap apapun yang menimpa baik itu benar ataupun salah. Apabila
kita tidak bertindak terhadap kesalahan yang menyebabkan tertimpanya ujian akan
menyebabkan kita selalu tertindas. Sebab
itu, Allah menggandengnkan kesabaran dan kebenaran, sebagaimana dalam Surat Al
Ashr, Wa tawaa Shawbil haqqi, wa tawaa shawbis shabr. Apabila kita benar harus sabar, apabila kita sabar
harus karena benar. Jika Kebenaran merupakan suatu prinsip maka kesabaran
merupakan suatu strategi. Prinsip yang tanpa strategi akan mudah dipatahkan
dalam mencapai tujuan yang diharapkan.
Perlu kita teladani sifat sabar yang dimiliki rasulullah SAW, sepanjang pribadi beliau yang dihina atau dicaci-maki beliau selalu mengendalikan diri tidak membalasnya akan tetapi jika permasalahan yang terjadi adalah adalah permasalah agama, penghinaan terhadap agama maka beliau tidak segan-segan maju berperang, bukan untuk memaksakan agama kepada sesorang tapi untuk menjaga kehormatan Islam Namun yang saat ini terjadi justru sebaliknya, jika pribadi dihina kita tsangat tidak terima namun jika agama kita yang dicaci maki seolah melimpahkan pembelaan terhadap agama kita hanyalah ustadz dan ulama. Apakah agama hanya urusan ustad dan ulama? Padahal setiap dari kita memiliki agama, lantas mengapa kita enggan membela sesuatau yang kelak akan menjadi pembela kita di akhirat? Maka sabar harus diletakkan pada tempatnya. Oleh karenanya orang yang sabar adalah orang yang sadar akan hakikat yag terdapat dalam kalimat "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun". Semoga dengan sikap ini Allah SWT memberrikan kelapangan pada kita serta meningkatkan keimanan yang ada pada diri kita. Aamiin
oleh rahasanica@gmail.com
referensi : Ceramah "Cobaan Hidup" oleh KH. Zainuddin MZ
No comments:
Post a Comment